Lama tidak berjumpa. Lama juga tidak bertegur sapa sampai menceritakan rutinitas yang mungkin bosan didengar atau dibaca juga.
Iya,, penghujung tahun 2022 ini siapa yang menyangka. Akan menemukan circle yang ga di duga akan begini jadinya.
Perkenalan dengan manusia-manusia berkualitas dari semua sisi. Yang masih berguna, masih bisa didaur ulang.
HAHAHAHAHAHA!!!!
But, i love them!!
I love this circle!!
This is ours!
Sensus Pura Regsosek 2022
Yess, benar!
Pekerjaan dan kontrak mendadak ini ternyata jadi rejeki tahun 2022 buat gw. Kenapa? Karena teman yang baik, bawa rejeki baik juga dooong!! Heheehe.. Karena akhirnya lewat Sensus ini, gw bisa mengenal mereka semua. Hampir 90% dari orang yang fotonya terpampang disitu, gw sama sekali ga kenal mereka. Yaaaa,, cuma 1 orang yang gw kenal karena ternyata dia adalah teman TK adek gw. Ya udah lah ya, ga penting. Yang penting, diantara mereka semua, gw adalah dedengkot-nya. Gw adalah kepala suku, yang sampe sekarang malah disebut Bu RT. Tapi dari awal, gw selalu bilang sama kalian semua, "anggap aja kita seumuran", biar gw ga keliatan paling tua. Hehehehe..
Siapa yang akan sangka, kalau foto dibawah ini, 23 September 2022 adalah foto kumpul pertama kali, sebelum akhirnya pertemuan berikutnya lantai ga pernah bersih dari tumpukan kertas kuisioner responden. Jaim, jelas!!! 😜
Akhir Bulan September 2022 akhirnya kita bisa saling tanya nama, tanya alamat, tau background masing-masing. Mulai dari kerjaan, masa lalu, keluarga, pacar bahkan keluarga. Disini, perlahan semua kelakuan dan tingkah nyeleneh pribadi masing-masing terlihat. Pelatihan sebelum Sensus bawa cerita lain juga. Andaikan pelatihan waktu itu kita semua bisa di 1 gelombang yang sama, pasti akan jauh lebih seru dibanding harus terpisah di 2 gelombang yang berbeda.
Alhamdulillah..
Sampai berakhirnya pelatihan semua gelombang, ternyata baru dimulai juga perang yang sesungguhnya. Semua usaha, kerja keras, kesabaran, diuji di momen yang bersamaan.
Door to door jadi ajang uji nyali buat kita semua. Kepribadian yang introvert, bakal temuin kesulitan untuk wawancara responden. Tapi kita ga mau kalah, ga mau nyerah.
Demi CUAN!!
Hahahaha I Love Money! *kalau kata Mr Crab di Spongebob Squarepants.
Minggu pertama
Masih bisa dijalani pakai semangat. Istirahat jam makan siang, ketemu, makan siang bareng, masih bisa duduk nongkrong, ngobrol, sambil lengkapin kuisioner yang belum terisi penuh.
Suara ketawa masih lantang, full charged! Tanpa beban!
Minggu kedua
Semangat mulai agak kendor, bagaikan celana kolor yang sering ditarik-tarik!
Pertemuan jam makan siang, mulai banyak keluh kesah ada penolakan dari responden yang menolak diwawancara, ada juga yang respondennya selalu ga ditempat. Nasfu makan mulai menurun, perut laper tapi rasanya malas makan. Kertas kuisioner mulai berserakan dimana-mana. DEPRESI dimulai!!
Minggu ketiga
Jangan ditanya! DEPRESI MELANDA!
Semangat hampir ga bersisa, kesabaran udah habis. Karena ternyata target kerja kita udah habis. Iya,, ga 30 hari penuh kita keliling, melainkan cuma 24 hari target semua warga harus udah selesai kita wawancara. Semua cara, halal pokoknya! Mulai dari video call group whatsapp, demi bisa temani begadang lengkapin kuisioner sampai jari tangan gemetaran. Entah udah ke-berapa gelas kopi dalam sehari, ke-berapa gelas es nutrisari jeruk maroko diseduh, ke-berapa mangkok indomie dimasak , melek begadang semalam suntuk tanpa tidur, semua demi target SLS selesai di waktu yang udah di tetapkan.
Ingatlah Guys!!
Kita pernah menangis bersama!!
Karena hanya tak dianggap!!
Kita pernah lelah bersama!!
Karena tulisan, wawancara dan tagging yang tak kunjung usai.
Tapi akhirnya, Kita pernah tertawa bersama!!
Karena akhirnya membuktikan bahwa kita bisa menyelesaikan tugas ini!!
Kita pernah bahagia pada diri sendiri, karena pencapaian yang akhirnya ternyata bisa diselesaikan oleh diri kita sendiri!! Dan kita patut bangga akan hal itu!!
Kita pernah bangga, bahwa ternyata kita semua solid! Kita tidak saling meninggalkan karena disaat ada yang menemui kesulitan, mereka tetap ada untuk membantu!
I Love You, Guys!!
Gw senang bisa mengenal kalian semua.
Kalian udah gw anggap sebagai keluarga.
Tetaplah seperti ini, keluarga yang solid, perhatian, saling bantu, saling sayang.
Jangan pernah berubah dan jangan pernah lupakan kalau kalian pernah mengenal gw ya.
Terima kasih sudah mau jadi bagian cerita dalam hidup gw.
Gw minta maaf sama kalian semua kalau selama kalian kenal gw, banyak hal, perbuatan maupun perkataan yang ga berkenan.
"Anggap aja kita semua seumuran ya"
🙆💗
Tulisan berikutnya, gw akan ulas masing-masing profil dari kalian semua.
Tujuannya, ga lain, ga bukan. Karena gw mau mengingat kalian semua seumur hidup gw.
Gw bersyukur udah bisa kenal kalian semua.
Gw dedikasikan tulisan ini untuk kalian semua yang udah mau mengenal gw lewat jalur Sensus.
Gw udah janji, kalau di cerita berikutnya gw akan ulas masing-masing keluarga gw ini. Please.. Jangan julid ya.. Nur - si Emak bocor Sebut aja begitu. Karena memang setiap ada dia, pembahasan itu ga pernah jauh dari bercanda, ketawa, obrolan dewasa. Polos tapi ga polos-polos amat. Gimana tuh kira-kira? Gw bahagia banget bisa kenal sama lo Nur. Pembahasan mengarah ke urusan rumah tangga, dewasa, lo doang emang yang paling lurus. Besok-besok kalau lagi nongkrong, jangan sebut-sebut "Pentium 1" lagi ya Nur. Kita semua sama. Sehat-sehat Nur, sukses untuk voli, seblak, boci & Fadli Cell nya. Rio - si paling serius "Yo,, itu lo minum pop ice masih disisain sih choco chip-nya!" Sabar yaa Yo, maklumin aja deh sama guyonan anak-anak itu. Ga tau aja mereka, klo lo jauh lebih senior dari mereka. Si paling serius yang ga pernah marah. Tapi karena makin sering ketemu, akhirnya Iyo bisa menyesuaikan diri, udah mulai terkontaminasi sama guyonan receh...
"Raihan, besok siang datanglah kerumahku. Ada paket yang harus kamu kirimkan" , suara Pak Roy dari sebrang sana melalui telfon genggamnya. "Baik Pak. Tumben saya kirim paketnya siang-siang Pak. Kenapa nggak malam lagi Pak?", Tanya Raihan balik. "Datang saja", jawabnya kembali. Rara mendengar obrolan ayahnya di pinggir kolam renang. Dia sudah merasa bosan melihat ayahnya bergelut dengan 'barang haram' tersebut. Rara memberanikan diri untuk menegur ayahnya. "Papi, apakah belum bosan kau menjalankan bisnis terlarangmu ini? Belumkah kau puas mendapatkan semua yang kau harapkan? Nyawa siapa lagi yang akan kau korbankan Pi? Apakah kau tega membiarkan Raihan masuk penjara tertangkap polisi atau mati meregang nyawa hanya karena barang haram itu? Tidakkah kau ingat bayi yang baru saja lahir beberapa minggu yang lalu yang keluar dari rumah sakit karena uang tebusanmu? Tidakkah kau iba melihatnya jika dia tidak memiliki ayah lagi...
Gass
BalasHapus