DRAMA TANIA
"Aku rindu pelukanmu Tom.."
"Aku rindu akan hadirmu.."
"Aku rindu perbincangan kita di dalam kereta.."
"Aku rindu senyuman dan tatapanmu padaku.."
Ternyata rindu itu menyakitkan.
Inikah rasanya merindukan orang lain yang bukan milikmu?
Apakah Tommy merindukanku?
Pasti tidak. Dia sedang bersama Jasmin kini. Tidak mungkin Tania menghubunginya.
Apakah pertemuan dipantai itu hanya untuk melegakan hatiku untuk terakhir kalinya kami bertemu?
Entahlah Tom. Aku bagaikan kehilangan arah tujuan. Tak tahu harus kemana aku mencarimu.
Apakah kabarmu baik-baik saja kini?
Hubungan antara Tommy dan Jasmin semakin membaik. Tak pernah ada kabar berita lagi dari Tommy ataupun keluh kesahnya tentang Jasmin. Berarti Tania dapat menyimpulkan. Cepat atau lambat Tommy akan benar-benar menghilang. Tapi Tania belum siap. Bagaimana harus mengakhiri ini semua tanpa pamit sama sekali.
Tania memberanikan diri.
Typing...
"Tom, ijinin aku untuk ketemu kamu untuk yang terakhir.
Setelah ini aku pamit, aku mundur",
Send.
Tania mengetik pesannya sambil berurai air mata. Rasa sesak dalam dadanya tak mampu dia bendung lagi.
"Aku ga boleh menangis. Aku harus kuat didepannya. Aku harus menunjukkan bahwa aku mampu tanpanya. Ini harus jadi yang terakhir Tania", Tania berbicara pada dirinya sendiri. Dia harus bisa.
"Kenapa sih Tan? Ada apa? Okey. Hari ini kita ketemu. Tapi jangan bilang ini yang terakhir. Aku ga mau. Aku mau kita tetap ketemu lagi setelah ini", jawab Tommy.
"Iya", dia tau hanya itu hal yang mampu dia ucapkan saat itu. Tania tidak benar-benar yakin apa yang di katakan. Dia hanya tak mampu memendamnya sendirian. "Bagaikan wanita bodoh", gumam Tania.
Sore itu, seperti biasa. Tapi Tommy tidak ingin Tania turun dari keretanya. Rupanya Tommy berniat untuk duduk disamping Tania. Perdebatan terjadi, ketika Tommy tak kunjung menemukan Tania digerbong yang mereka janjikan.
Tania bodoh, Tania yang malang.
"Kamu dimana sih?", kata Tommy.
"Aku di gerbong 4. Kamu dimana?", jawab Tania.
"Ga ada. Kamu salah gerbong tuh", perdebatan dimulai.
"Terus kamu dimana Tom?", Tania panik.
"Kamu gimana sih? Perasaan salah mulu janjian dimana adanya dimana! Kan kamu bilang kamu di gerbong 4. Aku udah kesini, tapi kamu taunya ada di gerbong 4 dari belakang. Kamu kesini deh, ke arah depan. Aku tunggu kamu disini, buruan. Keburu penuh kursinya", ungkap Tommy kesal.
Tania bodoh. Harusnya ini perpisahan terindah bukan? Kenapa kau isi dengan perdebatan Tania? Kenapa kau terlalu bodoh. Sambil berjalan ke depan, Tania memperhatikan seisi gerbong, mencari keberadaan Tommy. Ternyata dia sudah bersandar dekat pintu. Menunggu Tania dengan kesal. Tania tahu raut wajah itu. Dia masih mengenalnya , dia masih mengingat wajah Tommy 13 tahun yang lalu saat kesal.
Tak banyak percakapan bagi Tania malam itu. Dikereta, dia hanya memandangi wajah Tommy sambil berbicara dalam hati. Tapi Tommy mengacuhkannya. Tania berandai-andai jika Tommy tak dapat dia lihat lagi. Kenyataan terpahit yang harus Tania terima. Menyakitkan bukan.
Tak ada genggaman tangan hari itu. Tommy hanya asik dengan satu film yang dia putar di handphone-nya. Yang Tania tahu, saat itu dia menonton film komedi. Sambil penasaran Tania meliriknya, tetapi Tommy menawarkan sebelah earphone yang dia gunakan. "Nih, kamu mau nonton juga", tawar Tommy.
Mereka menikmati film itu, tidak sampai selesai. Tania melepaskan earphone yang dia gunakan, lalu Tania berbisik
"Tom, terima kasih ya. Terima kasih udah kabulin permintaan terakhir aku. Terima kasih karena kamu udah sayang sama aku. Terima kasih juga sudah sempat singgah walau hanya sebentar. Aku janji aku ga akan ganggu kamu dan Jasmin lagi".
Stasiun tujuan semakin dekat, dan semakin berdegup jantung Tania karena semakin sadar, bahwa dia sudah berjanji. Dia akan mengakhirinya.
Mereka tiba distasiun tujuan mereka. Malam itu hujan turun dengan derasnya. Tania turun dari kereta terlebih dahulu. Disusul Tommy dibelakangnya. Bulir putih itu mengalir di pipinya. Dia sembunyikan tangis itu dibawah rintik hujan yang turun. Perlahan Tania mundur, tidak lagi mengimbangi langkah Tommy. Sengaja dia membiarkan Tommy jalan lebih dulu. Menghilang dalam hujan akan lebih baik. Memandang tubuhnya dari belakang akan lebih melegakan.
"Ku simpan bayangmu dalam rintik hujan.
Ku sampaikan pada dinginnya malam ini salam perpisahan untuk kita.
Biarkan aku hanya mencintaimu dalam diamku Tom. Aku berjanji, ini yang terakhir".
"Kamu dimana Tan? Kok ninggalin aku sih? Besok kita ketemu lagi ya", isi pesan singkat dari Tommy.
"Ga bisa Tom. Aku takut ga bisa jaga perasaan ini lagi. Aku takut akan terus berharap. Kamu baik-baik ya", pamit Tania.
"Pokoknya, besok kita ketemu ya. Bye. Kamu hati-hati dijalan", itu pesan terakhir yang diterima Tania tanpa dia balas.
Hujan semakin deras, air mata Tania juga tak berhenti menetes.
Dia menangisi perpisahannya pada lelaki yang sudah menghadirkan memori lama.
Dia menyesali telah menjatuhkan lagi hatinya pada lelaki itu.
Tania yang bodoh.
-Alista-
Komentar
Posting Komentar