PAMIT
Pernah tiba-tiba merasakan sesak dalam dada?
Seperti ada rasa yang tertahan, memuncak dan meledak.
Seperti bom waktu yang tertahan menunggu waktunya.
Seperti itulah yang dirasa Tania saat ini.
Bulir putih itu meluncur tak bermuara. Entah kemana mengalirnya.
Berapa banyak dia sudah menghabiskan air matanya percuma, hanya sekedar mengharap balasan cinta dari seseorang yang lama sudah dikenalnya.
Cinta, sayang, rindu, itulah yang tak pernah berbalas. Tommy tak lagi mengaharapkannya.
Haruskah Tania bertahan dalam pengharapan panjangnya?
Tapi, PAMIT adalah keputusan terbaik
Tania dan Tommy. Bagaikan pungguk merindukan bulan.
Tak pernah terjangkau, tak tersentuh, tak berbalas.
-Alista-
Komentar
Posting Komentar