PERON STASIUN
Sore itu, disaat para pekerja berusaha untuk pulang kerumah setelah lelah seharian bekerja, Tania justru berusaha berpikir. Kata-kata apa yang dia siapkan untuk memulai pertemuan dengan Tommy.
Salah satu stasiun menjadi tempat bertemu sesuai janji yang telah mereka sepakati. Peron & kursi tunggu itu menjadi saksi bertemunya kembali mereka setelah 13 tahun tak bertemu.
"Kamu pakai baju apa Tan?" - Tommy
"Aku pakai baju abu-abu ya", jawab Tania sambil menarik sisi bibirnya .
"Ini bukan?" tiba-tiba Tommy mengirim foto tampak belakang seorang wanita dengan setelan abu-abu yang sedang duduk di kursi tunggu.
Terkejut, ya. Tania lalu membalikkan badannya segera mungkin.
Dug dug dug.. andaikan Tommy bisa mendengar degup jantungnya yang saat ini tak menentu. Ah tidak, andaikan saat itu Tommy bisa mendengar jeritan jantungnya. Tania gugup. Tania berusaha mengatur nafasnya.
Senyuman itu tak pernah hilang dari ingatan Tania. Dia masih mengingatnya secara jelas bagaimana lelaki itu tersenyum. Dia juga masih mengingatnya bagaimana Tommy pernah memanggil namanya dulu, lama sekali, secara langsung, tidak melalui pesan singkat.
"Udah lama nunggu ya? Maaf ya lama. Ketahan di sinyal masuk stasiun yang itu tuh", kata Tommy sambil mengusap wajahnya yang berkeringat efek berdesakan dengan penumpang kereta yang lain.
"Ga kok Tom. Tania jg blm lama sampai". Percayalah Tom, saat itu Tania sangat tak tenang. Dia selalu melihat jam tangannya berulang kali dikala gugup.
Kereta berikutnya datang....
"Tan, tuh keretanya dateng. Naik yuk", Tommy mengajak Tania.
"Yakin?" Tanya Tania balik karena ragu.
"Yuk!" . Tania mengikuti punggung lelaki yang lama tak dia lihat.
Pernah tahu padatnya KRL disore hari jam para pekerja pulang? Ya.. itu sangat biasa menurut Tania. Tapi tidak saat ini. Ini tidak seperti biasanya. Dia tak pernah menaiki kereta pulang kerja di gerbong campuran, tidak pernah bersama seseorang lelaki yang dia kenal, ah tidak pernah bersama Tommy lebih tepatnya.
Tania berusaha meraih apa yang bisa dia genggam saat itu, karena pijakan kakinya mulai limbung. Tahu apa yang dia pegang? Tania meraih lengan Tommy secara tidak sengaja yang sedang berpegangan. Namun, ketika pijakannya mulai stabil, dia melepaskan genggamannya.
Tapi, Tommy menolak. "Ga apa-apa. Pegangan aja. Nanti jatuh lagi."
Ya, Tania sudah jatuh.
Jatuh hati lagi padamu Tom.
Jatuh hati lagi padamu Tom.
-Alista-
Komentar
Posting Komentar