SEPASANG EARPHONE



"Tan, aku udah di stasiun ya. Lagi tunggu kereta nih. Trus earphone aku ketinggalan. Sebel, bete deh", pesan singkat yang dikirim Tommy pagi itu membangunkan tidur nyenyak Tania.

"Lho, kok bisa Tom? Kemarin di keluarin dari tas kerja ya? Makanya, besok-besok kalau emang udah selesai kamu pakai, jangan di keluarin dari tas. Simpen lagi. Ga apa sehari ini ga usah pakai earphone dulu ya", olahraga jari Tania pagi ini sudah menasehati Tommy.

"Ngga ah. Nanti aku mau beli aja", sahut Tommy.

"Serius? Aku nitip deh. Punya aku juga udah putus kabelnya. Aku nitip satu ya. Nanti sore kalau Kita ketemu, aku ganti uangnya 😄😊", seru Tania.

"Okey deh. Aku lanjut sarapan dulu ya Tan, sampai ketemu nanti sore", pamit Tommy.

"Bye" Tania mengakhiri percakapan mereka.


Tommy, lelaki bertubuh kekar, potongan rambut yang hampir tidak pernah lebih dari 2cm, bergaya spike (masih sama seperti 13 tahun yang lalu, tak pernah berubah tentunya dengan gel rambut yang membuat rambutnya menjadi kaku), menyimpan handphone di kantong celana sebelah kanan, sebungkus rokok di kantong celana sebelah kiri, tas besar berwarna hitam di gendong di depan badannya, dan earphone putih yang tak pernah alpa dari telinganya. Ya, jika bisa di bilang, earphone itu adalah teman kemanapun dia pergi yang tidak boleh tertinggal. Sudahlah, sepertinya tak perlu Tania jabarkan sosok Tommy secara detail.

Sesuai dengan janji mereka kemarin, Tania sore itu merubah tujuan keberangkatan keretanya. Kali ini dia menuju ke arah yang berlawanan. Tania menuju kearah Tommy berasal.

"Tom, aku udah di stasiun Manggarai ya, ga lama lagi aku sampai", kata Tania.


"Eh kamu ga usah turun ya Tan, aku langsung naik aja nanti. 
Kita ke stasiun paling ujung dulu ya. 
Biar kita bisa duduk bareng. 
Kamu kasih tau aja sekarang kamu di gerbong berapa. 
Okey", sahut Tommy.


"Hah? Di gerbong berapa ya? Aku gatau. Aku ga pernah perhatiin ini gerbong berapa", Tania panik.

"Itu, tadi waktu kamu mau naik kereta, kamu hitung ga, kamu Naik di gerbong berapa? Atau gini aja deh. Kamu liat di ujung gerbong dekat sambungan kereta. Biasanya ada angka yang nunjukkin itu di gerbong berapa".

"Sebentar aku liat dulu ya. 4 Tom. Ini gerbong 4", Tania menjawab lega.

"4 dari depan apa 4 dari belakang?", Sahut Tommy.

"Hah? Haduuuuh aku ga tau juga nih. Hahaha pokoknya dari belakang kereta aku pendek. Kayaknya aku 4 dari belakang, terus aku duduk di dekat kursi prioritas".

"Okey. Liat nanti aja. Aku telusuri kamu dari dalam gerbong ya", Tommy menutup percakapan.

Stasiun yang dituju hampir sampai. Tania tidak turun di stasiun Tommy berada, Tania tetap duduk dimana dia berada saat ini. Tidak beranjak sedikitpun. Kereta melambat dan hampir berhenti. Tania menghitung, satu,, dua,, tiga,, lalu lelaki dengan senyum manis itu datang persis di depan pandangannya.

"Lho kok pas banget sih. Hebat banget deh carinya. Anker (anak kereta) sejati yah!", Tania meledek Tommy.

"Iya dong. Nih buat kamu", Tommy mengeluarkan kotak kuning yang isinya gulungan kabel biru. Bentuk dan warna yang sama persis seperti yang dipakai oleh Tommy saat ini.

Sepasang earphone.

Menemani perjalanan pulang kerja Tania & Tommy sore itu.

Menikmati senja yang indah bersama Tommy, meskipun disekitarnya banyak orang yang lain juga.


Tertawa bersama.

Genggaman tangan yang tak pernah terlepas.

Dan sekali lagi, Tania bahagia sore itu.


-Alista-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SGGS (Semua Gara Gara Sensus)!!!

SGGS 2 (Tak kenal maka tak sayang, kenalan yuuk!)

AKU ISTIMEWA Part 7 (Final)