AKU ISTIMEWA Part 1
Aku tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga yang mana. Yang ku tahu, Allah Maha Adil. Dia sudah mengatur segalanya. Ketika mungkin orang tuaku merasa kesulitan, orang-orang menyebut kelahiranku adalah sebuah rezeki dan anugerah terbesar dalam hidup mereka.
Pada suatu hari, ketika bunda sedang mempersiapkan perlengkapan dan semua kebutuhan kelahiranku di kamarnya, dia merasakan ada air yang mengalir. Padahal dia tidak sedang ingin buang air. Ya, cairan ketuban bunda keluar. Dan sesekali bunda merasakan kontraksi yang amat sangat menyakitkan.
"Yah, ketubannya keluar nih Yah.. Yah... Tolongin bunda dong Yah..", bunda berteriak dari dalam kamar. Bunda tidak bergeser dari posisinya semula. Takut terpeleset. Dengan santainya sambil bersiul, suaminya hanya menyahut dari teras rumah "iya, sebentar bun. Tangan aku penuh busa nih. Duh, mana motor belum selesai semua aku cuci. Baru bagian bawahnya aja kan. Tunggu sebentar", itu jawaban santai suaminya.
Sambil berkemas barang yang tadi sedang disiapkan, bunda mengambil kain untuk mengelap air yang sedari tadi mengalir. Bunda panik, takut. Mulutnya tidak berhenti melantunkan zikir. Hanya itu yang dia bisa. Sesekali marah pada suaminya. "Ayaaaah... Ayo cepeeeet. Perut aku udah sakit banget". Motor yang hampir saja rampung di bilas, sudah di keringkan oleh suaminya. Sambil berlari kecil, dia memasuki kamar untuk berganti pakaian.
"Ayok ayok bun. Kamu udah rapi kan? Yang ini ya yang mau dibawa?", Sambil menunjuk tas yang sudah rampung dikemas.
"Iya yah."
"Sebentar, aku siapin motornya dulu ya", kata sang suami kepada istrinya.
"Duuuh keburu berojol deh nih kalau nunggu lama lagi gini. Sambil jalan aja deh yah panasin motornya", teriak sang istri yang sudah tidak mampu menahan sakitnya kontraksi ini.
"Kartu sakti udah dibawa belum bun?", Tanya sang suami.
"Udah siap semua. Ada di dompet", jawab istrinya.
Ya keluarga kecil itu hanya mengandalkan kartu sakti yang diwajibkan oleh pemerintah. Beberapa kali bunda memeriksakan kehamilannya dengan kartu BPJS Kesehatan. Yang bunda butuhkan untuk bisa memeriksakan kehamilannya adalah dengan membayar tagihan iuran yang sudah di sepakati. Jika menunggak, sudah jelas bunda harus merogoh kocek yang cukup besar meskipun hanya ke Bidan saja.
Bunda berusaha untuk mengutamakan membayar tagihan iuran si kartu sakti itu demi bisa memeriksakan ku ke rumah sakit. Padahal untuk makan sehari-hari saja, dia terkadang suka mengutang dari warung. Biasanya bunda berjanji akan membayar jika nanti ayah sudah mendapatkan uang dari hasil kerjanya. Ya, ayah adalah pekerja serabutan. Apa saja dia kerjakan demi bisa menghasilkan dan memberikan nafkah pada istrinya. Ini adalah cobaan 2 tahun usia pernikahan ayah dan bunda.
Aku tidak tahu persis apa yang terjadi. Karena kata bunda, ayah pada saat itu bisa terjerat hutang oleh kartu kredit. Gaya hidup rekan kerjanya membuat ayah gelap mata. Ayah juga mengajukan "kartu neraka" tersebut. Begitulah bunda menyebutnya. Kartu yang kini membawa keluarga kecil ini dalam penderitaan yang disesali. Hingga ayah kehilangan pekerjaannya yang asik karena telah mencoreng nama baik perusahaaan. Ya, lebih tepatnya ayah di pecat.
****
10 menit cukup bagi mereka untuk sampai di rumah sakit biasa memeriksakan kandungannya.
Tertatih bunda berjalan menuju UGD sambil mengatakan "mas tolongin, ini dari tadi ketubannya udah ngalir terus", sambil sedikit merintih karena menahan sakit.
"Silahkan bu. Ibu berbaring aja jangan bangun ya. Tunggu disini. Nanti Kita periksa dulu ya", kata perawat pria yang berjaga di ruang UGD.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 10.20 WIB. Pembukaan 8 sudah membuat bunda ingin mengejan terus. Sakitnya tak tertahankan lagi. Tak seperti biasanya. Kali ini ayah terlihat sangat cemas menunggu bunda di depan ruang bersalin. Bunda hanya butuh beberapa kali mengejan padahal. Tapi Bidan belum memperbolehkan bunda untuk mengejan. Karena pembukaannya belum lengkap.
2 jam berlalu, pembukaan sudah lengkap. Tapi ternyata cukup berat juga. Bagi ibu baru yang belum pernah melahirkan, sudah jelas tentu agak sulit dan berat melahirkan secara normal. Dengan bantuan sedikit guntingan pada jalan lahir, sedikit mempermudah bunda.
Ayah tidak cukup berani katanya. Dia hanya menunggu di depan ruangan sambil berdoa dan cemas sedikit menggigiti ujung kukunya. Terlihat seperti anak kecil bukan?
Beberapa waktu berselang, pintu ruangan terbuka. Seorang suster memanggil seseorang "Bapak Raihan. Suami dari Ibu Citra", didalam ruangan terdengar suara tangisan seorang bayi dengan sangat kerasnya.
"Ya, ya saya Sus", jawabnya.
"Selamat bapak. Bayinya perempuan. Sudah lahir ya Pak", kata suster.
"Alhamdulillah...", Ucap syukur ayah sambil sedikit meneteskan air mata.
Sedikit sesal. Karena dia tak cukup berani untuk mendampingi istrinya bersalin. Takut pingsan katanya.
Itulah ayahku. Ayah Raihan. Dan bunda hebat yang bertarung dengan hidup dan matinya tadi adalah bundaku. Bunda Citra. Perkenalkanlah aku, Mega Yana Saputri. Begitulah bunda menceritakan kelahiranku pada waktu itu.
Hingga bunda juga menceritakan bagian terpahitnya karena aku belum bisa keluar dari rumah sakit karena ayah dan bunda tidak sanggup menyelesaikan tagihan rumah sakit yang ternyata beberapa tidak ditanggung oleh si kartu sakti.
*Bersambung
#akuistimewa part 1
Komentar
Posting Komentar