AKU ISTIMEWA Part 2

Ayah bingung harus mencari uang pinjaman kemana lagi untuk bisa membawa buah hatinya keluar dari rumah sakit. Bunda pun lebih bingung dan tak tahu harus berbuat apa lagi karena anaknya di tahan oleh pihak rumah sakit. Mana mungkin rumah sakit bertindak sedemikian teganya kepada ibu baru ini. Orang tuaku adalah sama-sama merantau dari daerah ke Jakarta. Begitupula saudara-saudara ayah dan bunda yang sudah sibuk dengan kehidupan keluarganya masing-masing.

Ayah menghubungi beberapa rekan yang dia kenal. Dia mencoba menawarkan surat kendaraannya sebagai jaminan untuk bisa mendapatkan uang pinjaman. Beberapa daftar nama dalam telfon genggamnya tak ada hasil. Hampir semuanya yang dia hubungi menolak atau beralasan tidak memiliki uang cadangan. Biaya yang tidak sedikit memang. Selama ini ayah dan bunda tidak memiliki tabungan karena uang hasil ayah mengojek sudah habis untuk keperluan sehari-hari.

Tiga hari setelah kelahiranku, bunda hanya datang sendiri. Tanpa ayah. Ayah masih mencoba menghubungi sanak saudaranya. Siapa tahu dari mereka ada sedikit bantuan. Selama ini bunda bertekad untuk bisa memberikan ASI eksklusif untukku. Tapi entahlah, kenapa dia datang ke ruang perawatan bayi kali ini tanpa ASI ditangannya.

"Sus, saya mau jenguk anak saya", kata bunda pada seorang suster penjaga.
"Baik bu. Mohon ditunggu", jawab suster tersebut.
"Ini bayi ibu. Tadi sudah sempat diberikan susu formula ya bu. Karena anaknya menangis saja. Sedangkan saya juga tidak ada kabar mengenai ASIP yang dikirim kesini", sambil menyodorkan bayi merah tersebut.
"Oh ya saya belum bisa bawa pulang anak saya hari ini. Uang saya belum cukup untuk tebus bayi saya. Tolong nanti susu formulanya juga dimasukkan dalam tagihan saja ya Sus", ucap bunda pada suster penjaga sambil memandang wajah imut bayi yang sedang digendongnya.

Bunda menatap bayi tersebut dengan pilu. Berharap tangan kecil itu mampu menghapus kesedihan di wajahnya. Semoga bunda tidak sedih lagi.

Aku hanya bisa menangis meronta tatkala perutku merasa lapar. Ingin sekali rasanya diberi minum oleh bunda. Aku hanya berteriak. Tapi bunda justru semakin menangis. Dia sedih, ASInya tak juga keluar. ASI akan lancar jika si ibu juga merasa bahagia. Tidak dengan perasaan bunda saat ini. Dan aku semakin menjerit tak sabar. Begitupula bunda. Itulah yang akhirnya menyebabkan bunda menyerahkan minumku sepenuhnya pada susu formula. Bukankah jika kau berikan aku ASI akan memperingan dompetmu, Bun? Bukankah jika kau berikan aku ASI, ayah tak perlu cari pinjaman uang lebih lagi, Bun?

Bunda hanya mampu memandang anaknya, tanpa bisa membawanya pulang kerumah. Sambil memegangi botol susu yang sudah diminum habis, bunda mengangkat panggilan telfon yang baru saja diterimanya.

"Bun, malam ini ayah nggak bisa pulang. Ayah mau ketemu sama orang dulu ya. Ada kerjaan. InsyaAllah besok ayah pulang bawa uang dan anak Kita bisa pulang", suara dari seberang memberi sedikit pencerahan bagi bunda.

"Alhamdulillah.. iya, ayah hati-hati ya", jawab sang istri berharap.
Hari sudah semakin sore. Bunda sudah selesai menjengukku. Beberapa barang sudah dibawa pulang kerumah. Bersiap jika besok ayah bisa membawaku pulang bersamanya.
Malam ini tubuhnya menggigil. Menahan sakit. Entah bagian mana yang sakit karena sudah terlalu banyak yang dirasa. Payudaranya membengkak, keras, dan sangat menyakitkan. Seharusnya bunda sudah menyusuiku saat ini. Kelenjar susunya sudah memproduksi ASI. Tidak adanya dukungan dari manapun membuat bunda tak bersemangat. Bunda hanya menangis tersedu sendirian dikamarnya.

******

"Pak, saya sudah sampai di depan rumah ya", suara lelaki bertubuh tinggi tersebut melalui telfon genggamnya.
"Baik, masuk langsung saja. Bilang saja kamu mau ketemu saya", jawabnya lantang.
"Permisi bang. Saya sudah ada janji bertemu dengan Pak Roy", jawab Raihan.
"Silahkan tanda pengenalnya Pak", jawab pria bertubuh kekar dengan tato di lengan kanannya.
Raihan menyerahkan tanda pengenal yang Ada dalam dompetnya. Tak lama berselang, pintu terbuka olehnya.
Raihan memasuki sebuah ruangan yang sangat luas. Pilar yang berdiri kokoh di dalam ruangan, serta patung harimau putih disudut ruangan menambah kesan dingin ruangan tersebut.
Panggilan seseorang dari belakang badannya membuat Raihan terkejut dan membalikkan badannya seketika.

"Raihan, akhirnya kamu datang juga", lelaki tersebut sambil menepukkan kedua tangannya perlahan.
"Siap Pak. Bagaimana untuk tugas saya malam ini Pak?", Jawab Raihan.
"Kamu harus mengantarkan barang ini sampai tepat kepada penerima yang saya tunjuk, bayaran kamu separuh akan saya berikan malam ini. Separuh lagi jika barang itu saya pastikan sampai kepada penerima, bagaimana?", Tanya nya balik.
"Baik Pak. Yang penting besok saya bisa bawa anak saya pulang dari rumah sakit"
"Ini", lelaki tersebut menyerahkan bungkusan kotak susu bayi yang harus diantarkan kepada penerima.
Raihan tidak berani menerka apa isi dari kotak susu tersebut. Dia hanya fokus mendapatkan uang dan bisa menimang anaknya dirumah bersama istrinya. Sambil berlalu dari rumah tersebut, Raihan mengendarai motornya sampai ke tempat dia bertemu dengan si penerima paket.
*Bersambung
#akuistimewa part 2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SGGS (Semua Gara Gara Sensus)!!!

SGGS 2 (Tak kenal maka tak sayang, kenalan yuuk!)

AKU ISTIMEWA Part 7 (Final)