AKU ISTIMEWA Part 3
Tuuuut...
Tuuuut...
Nada sambung dari telfon yang dia genggam berbunyi.
"Hallo.."
"Hallo selamat malam. Dengan Mbak Cyntia?", Tanya Raihan.
"Iya. Maaf dari mana ini?"
"Saya Mbak. Kurir yang mau antar barang untuk Mbak. Saya sudah sampai di depan apartment Mbak", jawabnya.
"Saya turun Mas. Tunggu dibawah aja", wanita itu menjawab.
15 menit berlalu, tapi wanita tersebut tak kunjung datang. Raihan masih menunggu.
Ketika rasa bosan mulai menghampiri, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menepuk punggungnya.
"Mas, tadi yang telfon saya bukan ?"
"Owh iya mbak. Ini barang titipannya ya", Raihan menjawab.
"Ini sedikit tipsnya mas. Terima kasih ya", wanita menyalami Raihan dengan beberapa lembar uang berwarna biru.
"Waaah banyak nih kayaknya. Lumayan lah buat besok ajak pulang anak", gumamnya dalam hati.
Waktu menunjukkan pukul 02.15 WIB. Bukan waktu yang wajar untuk mengantarkan paket kan? Apalagi sang penerima ternyata adalah seorang wanita. Ditambah bayarannya sebagai Kurir juga tidaklah sedikit. Lumayan. Bisa untuk membayar tagihan kelahiran anaknya dirumah sakit yang tidak di tanggung oleh si "kartu sakti". Dalam perjalanan, Raihan mempersiapkan beberapa pertanyaan untuk Pak Roy. Berharap semoga rasa penasarannya terjawab.
Setibanya di kediaman Pak Roy, Raihan bertemu kembali dengan pria bertato tadi.
"Pak, saya sudah antarkan paket yang tadi. Saya mau bertemu dengan Pak Roy untuk mengambil sisa bayaran saya" ungkap Raihan .
"Tidak perlu Pak. Pak Roy sudah menitipkan bayaranmu pada saya. Ini sisa bayarannya", pria tersebut sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang.
"Ta.. ta.. tapi saya mau menanyakan beberapa hal Pak. Apa boleh saya bertemu dengan beliau?", Pinta Raihan memohon.
"Tidak perlu Pak. Bapak boleh pulang. Nanti jika Ada paket yang harus diantar, beliau akan menghubungi bapak langsung", jawab pria bertato dengan tegas.
Penasarannya tak terjawab.
Raihan mengendarai motornya menuju rumah kontrakannya.
*****
Suara pintu diketuk dari luar.
"Tok.. tok.. tok.. Assalamualaikum.. Bun.. Bunda.. ini ayah bun.. tolong bukain pintunya bun."
"Waalaikum salam. Iya tunggu yah", Citra menjawab.
"Ini, ayah udah bawa uang bun. Bisa untuk ajak Yana pulang bun. Ayo Kita ke rumah sakit bun. Kamu ganti baju ya. Kita berangkat sekarang", ajak Raihan.
"Ini banyak banget yah. Kamu kerja apa semalaman bisa dapat uang segini banyak? Kamu ga ngerampok atau jambret kan yah? Ini halal kan yah?", Citra justru bingung karena suaminya pulang membawa uang yang cukup banyak.
Raihan pun bingung ingin menjawab apa, karena penasarannya tadi pun tak terjawab oleh Pak Roy. "Udah, itu ga usah kamu pikirin. Aku kerja halal. Yang penting sekarang Kita bisa bawa Yana pulang dari rumah sakit. Aku ga sabar pingin kumpul bareng keluarga kecil Kita".
Lalu mereka berdua bergegas ke rumah sakit untuk menyelesaikan semuanya.
*****
"Ini sisa administrasi yang harus diselesaikan Pak", wanita muda itu menyerahkan beberapa lembar kertas yang isinya rincian biaya.
Raihan menghitung uang yang ada dikantongnya, lalu menyerahkan ke kasir. Setelah semua urusannya selesai, mereka beranjak untuk keruang perawatan bayi.
*****
"Tak disangka, bayi mungil ini kini sudah bersama Kita ya bun", ungkap Raihan sambil menimang Yana.
"Iya yah. Bunda senang sekali. Terima kasih ya yah. Kerja kerasmu akhirnya membuahkan hasil", keluarga kecil itu bersama kini.
*****
Hari-hari berlalu.
Kini Raihan dan Citra kembali ke rutinitas semula. Raihan harus mengojek untuk menghidupi keluarganya. Terkadang jika ada rekannya yang membutuhkan bantuannya sebagai kuli bangunan, dia pun menyempatkan untuk membantunya. Setidaknya lumayan dalam sehari dia akan membawa uang untuk istrinya.
Sedangkan hari ini, dia bersiap untuk mengojek lagi. Tempatnya biasa "mangkal" adalah di pasar depan kompleknya. Dia biasa mengantarkan ibu-ibu yang sudah selesai berbelanja. Dengan cekatan Raihan mengangkat seplastik besar berisi sayur mayur. Ada 1 orang langganan Raihan, yang setiap hampir setiap minggunya dia antar dari pasar ke tujuan.
"Bu, mari saya bantu", Raihan menawarkan.
"Iya mas, ini tolong ya".
"Buat jatah seminggu lagi nih Bu? Kok banyak banget gini? Atau mau ada acara?", Ucap Raihan dengan akrab.
"Enggak kok mas. Mau ada selamatan aja. Hehe".
Ibu Rara panggilannya. Mbak lebih tepatnya, tetapi Raihan mencoba sopan kepada penumpangnya. Rara adalah janda kembang di komplek itu. Umurnya masih muda, belum sampai 30-an. Belum memiliki anak. Suaminya meninggal karena sakit yang diderita (berdasarkan berita yang beredar), ketika usia pernikahan mereka terbilang baru 2 tahun. Rara adalah teman sekolah Citra pada saat SMA. Sudah jelas Rara mengetahui bahwa Raihan adalah suami Citra, tapi tidak sebaliknya. Raihan tidak mengenal bahwa Rara adalah sahabat istrinya. Saking akrabnya Raihan dan Rara, sampai-sampai Raihan pun menceritakan kisah bayi nya yang ditahan oleh pihak rumah sakit karena tidak bisa membayar tagihannya.
Ketika mereka sudah sampai ditujuan, Rara memberikan ongkos ojek kepada Raihan. Sambil mengucapkan selamat kepada Raihan atas kelahiran anaknya. Raihan pun berterima kasih sekali lagi.
*****
Citra yang masih berusaha menyusui Yana daritadi berusaha sabar. Mencoba menenangkan dirinya agar ASInya lancar dia berikan pada anaknya.
Sore itu ketika Raihan sudah selesai "ngojek", dia kembali kerumah untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perut. Siapa tahu istrinya membuat masakan enak untuknya.
"Assalamualaikum.. bun.."
"Waalaikum salam yah.., jangan teriak-teriak yah. Yana lagi tidur. Nanti kebangun", pesan sang istri pada suaminya yang baru saja pulang.
"Ayah mau makan dong bun. Lapar nih dari tadi belum sempat makan. Ngemil juga cuma sedikit. Belum ganjel perutnya", pinta Raihan pada Citra.
"Iya sebentar, bunda siapin ya yah. Sekalian buat minum dulu untuk ayah"
Ketika Citra menyiapkan makanan dan minuman di dapur , telfon genggam Raihan berbunyi. Samar-samar Citra mendengarkan percakapan suaminya.
"Hallo.."
"Baik Pak. Baik".
"Nanti setelah magrib saya akan kerumah bapak"
"Siap"
Ada apakah gerangan? Ada janji apa suaminya kali ini? Ingin bertemu dengan siapa? Apa yang akan dia lakukan? Lamunan dan pertanyaan seketika di buyarkan oleh tepukan suaminya pada pundaknya. Adukan sendok pada gelas tersebut terhenti.
"Bun, ayah nanti setelah magrib mau pergi dulu ya. Harus ketemuan sama orang", kata Raihan.
"Mau kemana sih yah? Dirumah aja kenapa sih. Kan dari tadi kamu belum gendong Yana. Kangen tuh anaknya", bujuk Citra pada Raihan.
"Nggak bisa bun. Ayah harus pergi dulu nanti", tolak Raihan.
"Pulangnya jam berapa yah? Jangan malem-malem ya".
"Belum tahu. Bisa jadi ga pulang juga. Tapi nanti kalau sudah selesai, pasti langsung pulang kok. Do'ain aja nanti ayah pulang bawa rezeki", jawab Raihan.
******
Raihan sudah rapi dengan setelan hitam. Kaos hitam, celana panjang hitam, serta jaket semi kulit kesayangannya yang setia menemaninya.
Ibadah sholat magrib sudah selesai ditunaikan. Lalu Raihan berpamitan pada istri dan anaknya.
"Bun, ayah berangkat ya", sambil mencium kening istrinya.
Citra mengangguk sambil mencium tangan suaminya, "Iya ayah. Hati-hati ya".
"Jangan lupa kunci pintunya"
"Ayah juga jangan lupa, kalau sudah selesai langsung pulang kerumah", pinta sang istri.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Sambil menyisakan penasaran, Citra menebak dari mana telfon tersebut? Ada urusan apa suaminya malam-malam begini?
*Bersambung
#akuistimewa part 3
Komentar
Posting Komentar