AKU ISTIMEWA Part 4
Malam itu cuaca terasa lebih dingin dari biasanya karena langit sedang gerimis saat ini. Raihan mengendarai motornya menuju tempat yang telah ditentukan. Pak Roy telah menghubunginya. Dia meminta Raihan untuk datang lagi kerumahnya.
Setibanya di kediaman Pak Roy, Raihan sudah menyiapkan tanda pengenalnya. Bersiap-siap sebelum penjaga bertato memintanya lagi.
"Selamat malam Pak. Saya sudah ada janji untuk bertemu dengan Pak Roy. Tadi beliau sudah sempat menelfon saya untuk datang kesini", ucap Raihan.
"Selamat malam. Silahkan ditunggu. Saya akan sampaikan kepada beliau", jawabnya.
*****
5 menit berlalu, lalu penjaga tersebut keluar menemui Raihan.
"Silahkan masuk. Pak Roy sudah menunggu di dalam"
"Terima kasih Pak"
Didahului dengan mengetuk pintu depan yang sangat besar tersebut, lalu suara orang yang dia kenal terdengar.
"Pak Raihan. Selamat datang, silahkan masuk", sambut Pak Roy sambil merentangkan tangan dan menjabat tangan Raihan.
"Terima kasih Pak. Bagaimana? Kira-kira paket apa lagi yang harus saya antar malam ini? Ke alamat mana?"
"Karena cuaca di luar sedang hujan deras dan paket yang akan di antar malam ini cukup banyak, kamu antarkan paket pakai mobil saya. Nanti akan ada supir yang mengantarmu. Paket sudah siap di mobil. Kamu hanya cukup menemani supir sampai ditujuan", Pak Roy menjelaskan.
"Ta.. ta.. tapi Pak, kalau saya boleh tahu, paket yang akan saya antarkan malam ini apa lagi ya Pak?", Raihan bertanya setengah takut. Dia ragu Pak Roy akan marah dan membatalkan pengiriman paketnya.
"Nanti setelah paket kamu kirimkan, kamu akan mengetahuinya. Segera kirimkan paket ini. Bayaranmu sepenuhnya akan saya bayarkan setelah paketnya sampai", Pak Roy menjawab agak tegas.
"Baik Pak. Saya segera berangkat".
Raihan bergidik dalam hati. Berharap semoga Allah selalu melindunginya, berharap semoga paket yang diantarnya malam ini bukanlah hal yang membuatnya menderita, apalagi jika sampai berurusan dengan Polisi.
"Kita berangkat sekarang Pak", ungkapnya pada supir yang sudah siap di mobil.
"Baik Pak. Kita berangkat sekarang", jawab supirnya.
25 menit perjalanan, belum juga mereka sampai di tempat tujuan karena saat hujan seperti ini, jalanan sangat macet sekali.
40 menit berlalu, jalanan yang dilalui oleh Raihan bukanlah lokasi yang aneh. Dia mengenalnya, karena ini adalah kawasan tempat tinggalnya. Anehnya supir tak bertanya hal apapun. Seperti dia sudah mengenal daerah tersebut. Justru Raihan yang bingung karena mobil yang dia tumpangi malah berbelok masuk ke arah komplek kontrakannya.
"Pak, kalau boleh tahu, Kita antar paketnya ke alamat mana ya Pak? Karena saya kenal daerah ini", tanya Raihan sambil mencari tahu penasarannya.
"Nanti bapak juga tahu. Yang penting disaat nanti sampai ditempat tujuan, Pak Raihan hanya cukup menghubungi penerima paket. Simpel bukan? Seperti instruksi Pak Roy tadi", jawab supir tersebut.
Jantung Raihan semakin berdebar, disamping dia tak tahu paket yang dikirim, dia tak tahu juga penerima paketnya, di tambah pula ini hampir mendekati rumahnya. Apakah penerima paketnya adalah tetangganya?
Benar juga, mobil Pak Roy berhenti di depan rumah yang tak asing lagi. Ini adalah rumahnya. Rumah Raihan. Jantung Raihan berdegup cepat.
"Pak, Kita kenapa berhenti disini? Kita mau kirim paket apa?", Tanya Raihan kalut.
"Penerima paket hari ini bernama ibu Citra. Bapak tolong hubungi ibu Citra untuk keluar dan ambil paketnya", supirnya menjawab.
Raihan takut, tapi dia harus memanggil istrinya agar dia bisa tahu paket apa yang dikirimkan oleh bos anehnya tersebut.
"Ini no telfonya", supir tersebut menyerahkan no telfon istrinya.
Dia sudah jelas mengetahuinya tanpa diberitahu sekalipun oleh supir.
"Assalamualaikum.. bun.. ini ayah. Yana lagi apa? Tolong keluar rumah dulu sebentar. Ada paket yang harus diterima", suara Raihan dari telfon sambil menunggu istrinya keluar dari rumah.
Citra keluar dari rumah sambil menggendong Yana yang sedang menangis. Dia terheran melihat suaminya di depan rumah berdiri di depan mobil sambil mengangkat bahunya.
"Pak, istri saya sudah keluar. Sekarang saya mau tahu, apa paket yang dikirim oleh Pak Roy? Kenapa Pak Roy mengantarkan paketnya kerumah saya? Kenapa tidak ada pesan apapun dari beliau?", Raihan mengutarakan segudang pertanyaan kepada supir tersebut.
"Begini Pak. Maaf saya tidak bisa sampaikan. Kita ke belakang saja ya", supir itu mengantar Raihan dan istrinya ke bagasi mobil.
"Ini paket yang dikirim hari ini Pak", ucapnya pada Raihan sambil menunjukkan tumpukan nasi kotak yang tersusun sangat banyak.
"Tapi kenapa kesini Pak? Keluarga saya hanya 3 orang. Itupun yang bisa makan hanya kami berdua", Raihan menunjuk dirinya dan istrinya.
"Untuk lebih jelasnya, bapak boleh telfon Pak Roy".
"Selamat malam Pak Roy. Saya sudah sampai dilokasi tujuan. Tapi kenapa paketnya dikirim kerumah saya Pak?", Tanya Raihan.
"Kamu pernah bercerita bukan bahwa kamu membutuhkan uang untuk mengeluarkan anakmu dari rumah sakit? Kamu pernah cerita bukan bahwa pekerjaanmu hanyalah pekerja serabutan? Saya hanya membantumu. Saya hanya membantu orang yang kesulitan. Saya akan memberikan imbalan kepada orang yang telah bekerja, kepada orang yang telah selesai menunaikan tugasnya. Ingat pekerjaanmu kemarin? Saya sudah membayarnya bukan? Kali ini saya berikan tugas lagi. Itulah bayaranmu. Anggaplah saya berterima kasih. Ambillah nasi kotak tersebut, bagikan kepada tetangga terdekat, anggap saja itu adalah syukuran atas kelahiran anakmu", Pak Roy menjelaskan.
"Tapi kenapa anda bisa tahu banyak tentang saya. Saya hanya sampaikan, bahwa saya butuh pekerjaan dengan bayaran yang cukup karena saya harus menebus anak saya Pak", Raihan heran.
"Itu tidak penting. Yang penting sekarang, kamu sudah menyelesaikan tugas mu dan saya sudah membayarnya. Selamat atas kelahiran anakmu ya. Dan selamat berkumpul dengan keluarga kecilmu".
Raihan dan Citra menurunkan semua nasi kotak tersebut dan segera membagikannya kepada para tetangga. Pertanyaan yang dari tadi memenuhi isi kepala, mereka simpan dulu.
*****
"Yah, berasa nggak sih dari kemarin kalau Kita kayaknya lagi dikasih kemudahan sama Allah semenjak kelahiran Yana? Anak itu emang rezeki banget ya Yah. Alhamdulillah..", ungkap Citra pada Raihan.
"Iya bun, alhamdulillah banget. Bisa kenal Pak Roy. Orangnya baik dan mau bantu orang yang kesusahan. Ya udah kamu makan dulu. Gantian cepetan. Keburu Yana bangun lagi nanti, kamu malah susah makan bun", Raihan menambahkan.
Tapi hatinya tetap bertanya, siapakah gerangan Pak Roy? Kenapa dia sangat darmawan? Kenapa dia mau membantu keluarga Raihan, sedangkan sepertinya Raihan tidak memiliki hubungan keluarga atau pertemanan sebelumnya dengan Pak Roy.
*Bersambung
#akuistimewa part 4
Komentar
Posting Komentar