AKU ISTIMEWA Part 5

"Pi, papi inget kan cowok yang aku ceritain beberapa minggu yang lalu. Aku udah mulai ada pendekatan ke dia. Dia tukang ojek langganan aku setiap pulang dari pasar. Beberapa hari yang lalu dia bercerita kalau dia sedang butuh uang. Istrinya melahirkan. Sedangkan anaknya masih ditahan oleh pihak rumah sakit karena mereka tidak bisa membayar tunggakannya. Sepertinya kalau kita pakai dia untuk jadi kurir papi yang baru dia bisa tuh Pi. Gimana?", ujar Rara pada Papinya. 


"Siapa namanya? Dia biasa 'mangkal' dimana? Kamu udah berapa lama jadi langganannya? Nanti Papi coba cari tahu lewat Yuda".

"Namanya Raihan, Pi. Istrinya adalah sahabatku di SMA. Dia 'mangkal' di depan pasar komplek ku Pi. Biasanya pagi sampai siang dia stay disana", Rara menambahkan.

"Okey. Besok Papi minta Yuda untuk atur semuanya".

"Okey. Beberapa hari kedepan aku juga punya rencana Pi. Akan ada paket dari aku. Tetap akan aku titip di Papi ya sebagai pengirim", Rara menambahkan.

"Semoga nasibnya tidak sama dengan almarhum suamimu dulu ya Ra".

*******

"Bu.. Denger-denger nih ya, tetangga kita itu jadi orang kaya baru lho Bu"

"Iya Bu. Kemarin malam dapat nasi kotak nggak Bu dari dia? Katanya selamatan dari bayinya yang baru lahir lho Bu. Hebat ya, padahal beli beras ke warung aja bayarnya masih kurang lho Bu"

"Masa sih Bu? Aku kirain dapet kiriman dari saudaranya di kampung"

"Bukan Bu. Yang aku tau, suaminya dapet kerjaan baru Bu. Udah nggak "ngojek" lagi.

Obrolan tetangga mengenai keluarga Citra sampai ke telinganya. Kini Citra tak lagi tenang. Hidupnya bagaikan di teror. Apa yang berubah dari keluarganya? Toh selama ini memang suaminya bekerja lebih giat agar bisa mendapatkan rezeki lebih demi menghidupi istri dan anaknya. Apa yang salah? Jika memang hutang di warung belum lunas, itu semua karena uang Citra belum mencukupi untuk membayar.

Malam semakin larut. Ketika Citra menunggu Raihan melepas lelahnya, dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya.

"Yah, aku boleh bertanya sesuatu?"

"Kenapa Bun?"

"Yah, kemarin kamu dapet uang dari mana sih? Kok kamu bisa bayar semua tunggakan rumah sakit kemarin?"

"Kan aku udah bilang Bun. Kemarin itu aku dapet kerjaan, ada yang nawarin aku kerjaan Bun. Bayarannya lumayan".

"Kerja apa Yah! Mana mungkin kerja dalam semalem terus bayarannya bisa sampai lebih dari lima ratus ribu!", suara Citra semakin meninggi.

"Kamu kenapa sih Bun? Ada yang salah? Ada yang mengganggu pikiran kamu sampai-sampai kamu terus menekanku dengan pertanyaan itu? Harusnya kamu terima saja! Bukan justru bertanya yang tidak-tidak. Aku mencari uang, berusaha, bekerja agar bisa menebus anak kita dari rumah sakit, agar keluarga kita bisa berkumpul! Toh yang aku kerjakan halal. Apa kamu tahu aku mengantarkan paket tengah malam dengan jarak yang cukup jauh? Apa kamu tahu aku mencoba menahan dingin malam sendirian demi uang?"

Citra menangis tersedu sambil menutup wajahnya. Tak disangka pertanyaan tersebut ternyata melukai hati suaminya. Mana mungkin dia menaruh curiga sedangkan suaminya sedang berjuang demi anaknya.
Raihan menurunkan emosinya. Berusaha tidak marah berlarut-larut pada istrinya.

"Maafin ayah, Bun. Ayah emosi. Kamu harusnya percaya Bun sama Ayah", tangannya membelai lembut rambut istrinya.

"Maafin Bunda juga ya Yah. Bunda hanya nggak kuat mendengar obrolan buruk tetangga tentang keluarga kita. Banyak yang membicarakan hal buruk tentangmu Yah".

"Kenapa sih bun? Ada apa? Kamu tuh kalau dengar sesuatu, cerita sama ayah. Biar ga salah paham begini".

"Itu! Ayah ga peka juga! Bunda dari kemarin mempertanyakan pekerjaan ayah yang bisa dapat uang banyak dalam waktu singkat".

"Sehari setelah Yana lahir, disaat ayah 'ngojek' di depan pasar, ada bapak-bapak dateng ke ayah. Dia minta tolong banget untuk gantiin tugasnya malem itu kirim paket. Pengirimnya adalah saudaranya. Dan itu paket kilat. Harus sampai malam itu juga, tidak boleh ditunda. Karena sifatnya 'urgent', dia juga menjanjikan bayaran berlipat ganda. Siapa sih bun yang mau menolak bayaran besar kalau lagi butuh uang begini?", Raihan menjelaskan.

"Owh yang ayah sebut kemarin Pak Roy ya namanya?"

"Iya. Aku sekarang kerja sampingan sama Pak Roy. Setiap dia butuh tenaga aku, aku siap buat bantu dia Bun. Dia kan sudah baik sama keluarga kita. Yaah, hitung-hitung balas budi ya Bun. Tapi aku tetap 'ngojek' kok kalau pagi dan siang".

Sudah jelas sekarang dimana letak kecemasannya. Tapi Raihan tak sadar. Apa yang dilakukannya mungkin adalah awal petakanya bermula.

*Bersambung


#akuistimewa part 5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SGGS (Semua Gara Gara Sensus)!!!

SGGS 2 (Tak kenal maka tak sayang, kenalan yuuk!)

AKU ISTIMEWA Part 7 (Final)