AKU ISTIMEWA Part 6

Sebelum kau mengenalku.


"Anton, hari ini kamu tahu kan ada pengiriman paket besar? Titik temu dengan penerima tersebut akan diberitahu oleh Yuda. Dia akan menemanimu ke lokasi tersebut. Hati-hati, jangan sampai lengah lagi. Ini adalah proyek besar".


"Baik Pi. Barang itu akan aman malam ini. Dia akan menerimanya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Aku akan berpamitan dengan Rara dulu Pi. Nanti aku akan menyusul Yuda ke garasi", jawab Anton pada ayah mertuanya.


*****

"Darl.. aku berangkat ya. Doakan pengiriman malam ini lancar. Bonus dari Papi sudah menunggu", Anton mengedipkan genit sebelah matanya kepada istrinya.


"Jangan lupa. Setelah misi hari ini selesai, kita liburan ya sayang", Rara menagih janji yang diucapkan suaminya kemarin pagi.


*****

Yuda sudah bersiap di dalam mobil. Rokok yang baru saja dinyalakan, belum habis separuh, dia lempar ke jalan. Sudah suntuk ternyata dia menunggu Anton lama sekali berpamitan dengan permaisuri-nya.


"Hei! Lekaslah! Waktu kita sudah semakin sempit!", bentaknya secara lantang.


"Ya ya! Aku segera kesana", jawab Anton.


"Darl.. aku berangkat". Tak lupa kecupan manis di bibirnya menjadi penyemangatnya malam ini. Segera dia masuk ke dalam mobil.



*****


Beberapa gedung bangunan kosong bekas apartment itu menjadi tempat transaksi Anton malam ini. Berbeda dari transaksi sebelumnya. Kali ini, dia tidak menyiapkan apapun sebagai pelindung diri. Anton sudah bersiap di dalam mobil sambil menunggu telfon dari si penerima paket. Tidak lama, telfon Anton berdering.


"Hallo.."


"Saya sudah disebrang gedung B. Persis di samping lobby", ucap si penerima paket


"Saya segera kesana", jawab Anton.


Anton berjalan sendiri untuk mengantarkan paket tersebut. Tapi entahlah dia merasa ada yang berbeda dengan malam ini. Tidak seperti transaksi yang sudah terjadi sebelumnya. Atau ini hanya firasat buruknya.


Si penerima berdiri dengan jarak 20 meter dari Anton saat ini berjalan. Setelan kaos raglan, celana training, sandal jepit, dan dan topi baseball merah menjadi pusat perhatiannya kini. Sedangkan Yuda hanya menunggu di mobil sampai transaksi itu selesai.


Kini mereka hanya berjarak 5 meter.


Semakin dekat.


Lalu berjabat tangan.


"Paket dari Pak Roy?"


"Ya, ini!"


Sambil mengambil kardus mie instan yang di ikat tersebut, tangan mereka bertaut, lalu Anton merasakan tangannya dipelintir dengan sangat kencang. Pertahanannya roboh ketika badannya dibanting ke tanah seketika. Perlawanan dilakukan sekuat tenaga, tapi dia kalah kuat dari laki-laki tersebut. Beberapa orang berlari dari persembunyian. Jelas ini adalah jebakan, padahal sebelumnya tidak pernah ada paket yang luput dari pengirimannya.



Yud, lo pergi dari situ! Ini jebakan! Cepat pergi!", Anton berteriak dengan kencang. Berharap semoga Yuda yang menunggu dari mobil mendengar instruksi tersebut. Yuda hanya seorang supir. Dia pun tak punya keahlian menembak, jadi mana mungkin Yuda menyimpan senjata.


Orang-orang yang keluar dari persembunyian tersebut sebagian berusaha mengejar Yuda. Sambil melepaskan beberapa tembakan, Yuda luput dari tangkapan mereka. Yuda berhasil kabur. Sedangkan Anton yang memberontak dan berusaha kabur dari mereka, telah dilumpuhkan oleh Polisi. Ya, Anton tak tertolong. Anton terkena tembakan mengenai jantungnya.


Ya, Polisi menjebaknya. Pasti ada pihak yang telah membocorkan kegiatannya dengan ayah mertuanya. Polisi tidak mendapatkan hasil apapun. Hanya kematian dari terduga tersangka, tanpa mendapat saksi hidup untuk pengembangan kasusnya. Sia-sia. Sedangkan kabar kematian Anton di gedung bekas apartement tidak terpakai itu, sudah sampai ke telinga ayah mertuanya.


"Selamat malam Pak. Info dari warga sekitar, ada baku tembak tadi disana. Jasadnya diserahkan ke warga sekitar. Mereka mengarang cerita bahwa Anton adalah warga setempat. Apakah bisa malam ini kita jemput jasad Anton, Pak?", ucap pengawal pribadinya.


Jantungnya berdegup cepat. Apa yang harus dikatakan kepada anak semata wayangnya bahwa suaminya meninggal karena tugas dari ayah mertuanya. Apa yang harus dilakukannya lagi, padahal menantunya tersebut adalah kurir terbaik dari semua orang yang pernah bekerja dengannya.


*****


"Ra, temui Papi di halaman belakang ya, di kolam renang", ucap ayahnya melalui telfon.


*****

"Ra, kamu sudah tahu kan bisnis Papi ini seperti apa? Kamu tahu kan apa resikonya?"


"Maksud Papi apa sih? Aku nggak ngerti."


"Kamu pasti ngerti. Papi cuma mau bilang maaf. Anton tertembak. Malam ini kita dijebak. Ada yang berusaha membocorkan transaksi kita. Penerima yang sebenarnya sudah ditahan oleh Polisi. Sedangkan Anton tadi bertemu dengan penerima yang palsu, yaitu Polisi yang menyamar. Maafkan Papi", ayahnya menangis.


"A.. a.. apa kata Papi? Anton meninggal?! Nggak mungkin Pi", bagaikan disambar petir siang bolong, Rara kaget setengah mati. Berusaha semoga berita tersebut bukanlah hal yang benar.


Ayahnya tertunduk lesu, merasa bersalah karena menantunya meninggal karena terlibat dalam bisnisnya itu.


*****

Rara merasa kehilangan suaminya. Dia marah, mencoba menguasai amarahnya, tapi tak bisa. Selepas pemakaman suaminya, Rara sudah bersiap dengan beberapa koper pakaian. Ya, dia akan meninggalkan rumah ayahnya. Dia akan membeli sebuah rumah yang agak jauh dari sini.


"Papi, aku akan pergi dari sini. Jangan katakan bahwa Anton meninggal karena ditembak Polisi. Katakanlah bahwa Anton meninggal karena sakit. Begitupula yang akan ku katakan pada tetangga nanti jika aku sudah membaur dengan mereka. Maafkan aku Papi, tidak bisa menemanimu saat ini. Mungkin nanti jika rasa kehilanganku sudah membaik, aku akan kembali lagi kerumah ini", pamit Rara pada ayahnya.


"Maafkan Papi, nak"


*****


6 bulan berlalu. Kehidupan Rara di komplek tersebut sangat baik. Rara bisa membaur dengan tetangga terdekat. Dia menjalani kehidupan seperti biasa. Hingga pada suatu hari Rara berbelanja di pasar depan komplek.


"Mas, besok jadi ojek langganan saya aja gimana? Mau nggak? Biar nggak repot besok-besok saya kalau pulang dari pasar cari ojek", tawaran dari Rara.


"Baik Bu. Boleh", jawab Raihan.


Disitulah awal mula pertemuan antara Rara dengan Raihan berlangsung. Rara mengamatinya dengan cukup baik. Hingga dia berniat untuk merencanakan sesuatu yang mungkin akan membantu bisnis ayahnya.



*Bersambung

#akuistimewa part6 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SGGS (Semua Gara Gara Sensus)!!!

SGGS 2 (Tak kenal maka tak sayang, kenalan yuuk!)

AKU ISTIMEWA Part 7 (Final)