HAMPIR DI UJUNG JALAN...


Terlalu bodoh untuk bertahan.. 
Terlalu menyakitkan untuk memperjuangkan.. 
Jika memang ini hubungan bersama, kenapa hanya satu pihak yang berusaha? 
Jika memang ini hubungan bersama, kenapa hanya satu pihak yang berlari, sedangkan satu pihak yang lain berlari juga, tapi menjauhi. 


Untuk apa? 
Bukankah hatimu berhak bahagia Tan? 
Bukankah hatimu berhak merasakan cinta meskipun bukan dari Tommy? 


Terlalu lelah Tania berlari, menghindari keadaan ini. 
Terlalu letih Tania menangis, meratapi akhir hubungan ini. 
Mampukah dia bertahan, menjalani lagi kehidupannya meskipun tanpa Tommy di sisinya?
Mampukah dia mengembalikan keadaan seperti sedia kala dimana Tania tidak menghadirkan Tommy dalam hari-harinya?
Mampukah dia bersikap seperti biasa saja seperti semuanya baik-baik saja?



"Hal terbodoh pertama, aku pernah berjanji untuk mundur dari kehidupanmu dan Jasmin."



"Hal terbodoh kedua, aku masih sempat memperhatikan kesehatanmu. Aku tak memperdulikan kesehatanku sendiri yang mulai semakin memburuk. Disaat kau mengeluh alergimu kambuh, aku tak pikir panjang. Hanya pergi ke apotik, membeli beberapa obat anti alergi untuk diserahkan kepadamu sore itu. Namun, lagi-lagi kau tak dapat ku temui. Dengan segudang alasanmu menghindariku agar tak kutemui kau yang sedang bersama Jasmin". 


"Hal terbodoh yang pernah ku lakukan berikutnya  adalah menunggumu di stasiun. Melihat setiap orang yang lewat di depanku, berharap itu kamu. Menunggu setiap kereta yang lewat, berharap mampu mendeteksi keberadaanmu. Mendengarkan percakapan setiap orang, berharap itu suaramu. Ku buang waktu ku berjam-jam hanya untuk menunggumu".


Tania bagaikan orang yang hilang kewarasannya saat itu. Membuang waktunya demi hal yang tak pasti.  Tania hampir gila. Dia tak peduli lagi dengan kesehatannya. Tak ada lagi rasa lapar untuknya. Terlalu pening kepalanya karena kurang tidur. Dia hanya menghabiskan waktunya dikasur tanpa terlelap, menangis dan menangis. 

Janji temu untuk menonton film kembali, hanya janji. Film pertama dan terakhir, tak pernah terulang. Kenangan bersamanya di dalam teater 2, terlalu membekas bagi Tania. 

Janji temu untuk menyerahkan obat anti alergi Tommy, tak pernah sampai kepadanya. Beberapa butir obat itu, hanya tersimpan rapi di dompet Tania. Berharap semoga lelaki itu tak pernah kambuh lagi alerginya. 

3 minggu berlalu. Harapannya perlahan pudar. Tak pernah nampak. Sudah jelas Tommy tak kan pernah kembali untuknya. Lalu, untuk apa berharap. Bukankah lelah hatimu berlari Tan? Berlari seorang diri. Berlari mengejar seseorang yang tidak mencintaimu? Bukankah lelah mengejar seseorang yang hanya menganggapmu sebagai persinggahan disaat jenuh? Nyatanya cintamu bertepuk sebelah tangan. 

"Yang ku benci darimu, kau tak pernah ungkapkan jika ingin pergi. Kau tak pernah mengakui jika kau ingin mundur. Kau membuatku mencintaimu, lalu setelahnya kau tinggalkan aku". 

Tania demam. Panasnya terlalu tinggi. Tidak seperti sebelumnya, kali ini terlalu berat untuknya. Mencoba bertahan diatas perihnya luka yang kau torehkan, badannya berguncang hebat. Matanya terlalu sembab. Hampir lelah untuk menangis lagi.


"Aku pernah dekat sekali denganmu Tom. Sangat dekat. Hampir tak ada celah diantara kita. Kau bilang kau mencintaiku. Apakah itu bohong?"


"Aku pernah mendengarmu berbicara padaku, kau pinta aku untuk jangan pergi. Tapi, kau yang justru pergi meninggalkan aku. Katakan kau akan kembali Tom."


"Aku pernah menolakmu, meminta kau dan aku menjadi kita. Bisakah kau tawarkan kembali?" 


Tania sudah diujung jalan saat ini. Dia tinggal memilih, kemana dia akan melangkah? Akankah dia melompat ke jurang terdalam atau memutar arah, kembali ke arah sebelum lelaki itu datang. Jika dia mencoba melompat, dia akan mendapat beberapa kemungkinan. Dia mati dalam kesedihannya, atau selamat tapi cacat sudah hatinya. 

Tania hanya perlu memilih...


Malam semakin perih ketika dia mendengar lagu itu.. 


Tersenyum ku tak mampu
Hilang semua dayaku..
Cinta... Pegang tanganku ini
Ku tak mampu bertahan lagi
Dalamnya luka hatiku..
Cinta.. genggam tanganku ini
Dan yakinkan bahwa diriku
Mampu berjalan meskipun tanpanya.. 



-Alista-




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SGGS (Semua Gara Gara Sensus)!!!

SGGS 2 (Tak kenal maka tak sayang, kenalan yuuk!)

AKU ISTIMEWA Part 7 (Final)