CINCIN PERNIKAHAN
Beberapa orang mungkin menganggap pentingnya cincin pernikahan terpasang di jari manisnya. Tapi tidak juga bagi sebagian orang yang lainnya. Justru ada beberapa orang pula yang dengan sengaja menggunakannya jika hanya sedang bersama dengan "pasangan sah-nya", dan melepaskannya jika tidak bersama dengannya.
Tidak usah dipungkiri, tapi begitu keadaan yang memang sudah jelas terjadi. Tak usah disangkal, mungkin beberapa orang yang ku kenal melakukan hal tersebut.
Pernah suatu hari saat saya pulang dari tempat kerja, saya bertemu dengan seorang wanita dan pria yang duduk berdampingan di sebuah bus kota dengan mesranya. Awalnya saya pikir mungkin mereka adalah pasangan suami istri, karena wanita itu menyandarkan kepalanya ke bahu sang pria. Tahukah apa yang ada dipikiran saya ketika saya menemukan fakta lain?
"Mas, anakmu apa kabar?", kata si wanita tersebut.
"Kemarin dia minta uang bayaran sekolah sama Yanti (mungkin nama istrinya). Tapi belum dikasih. Yanti malah minta duit lagi sama aku", jawab laki-laki tersebut.
Entahlah, mungkin mataku ini terlalu jahil, senang saja melihat apa yang terlihat jelas di depan mata, termasuk pesan yang dikirimkan oleh pria tersebut melalui ponselnya. Pria tersebut mengetik sesuatu pada aplikasi 'Whatsapp' dengan penerima pesan adalah "Istriku". Dengan isi pesan adalah "Mah, masak apa? Aku udah dijalan pulang. Laper banget." Wooow! Kaget bukan kepalang. Benar dugaanku! Mereka (yang duduk di bus kota) bukanlah pasangan suami istri yang sebenarnya. Hahaha... *cukup tertawa dalam hati.
Telinga ini juga mulai memasang sensor tinggi. Mencoba mendengar sedikit obrolan tentang mereka. "Suamimu gimana? Masih ngambek?"
Waduuuh, obrolan ini semakin tidak sehat. Mereka ternyata sama-sama memiliki pasangan.
Sudah-sudah! Tidak bagus 'menguping' obrolan mereka. Menambah dosa saja.
Pernah suatu hari saat saya pulang dari tempat kerja, saya bertemu dengan seorang wanita dan pria yang duduk berdampingan di sebuah bus kota dengan mesranya. Awalnya saya pikir mungkin mereka adalah pasangan suami istri, karena wanita itu menyandarkan kepalanya ke bahu sang pria. Tahukah apa yang ada dipikiran saya ketika saya menemukan fakta lain?
"Mas, anakmu apa kabar?", kata si wanita tersebut.
"Kemarin dia minta uang bayaran sekolah sama Yanti (mungkin nama istrinya). Tapi belum dikasih. Yanti malah minta duit lagi sama aku", jawab laki-laki tersebut.
Entahlah, mungkin mataku ini terlalu jahil, senang saja melihat apa yang terlihat jelas di depan mata, termasuk pesan yang dikirimkan oleh pria tersebut melalui ponselnya. Pria tersebut mengetik sesuatu pada aplikasi 'Whatsapp' dengan penerima pesan adalah "Istriku". Dengan isi pesan adalah "Mah, masak apa? Aku udah dijalan pulang. Laper banget." Wooow! Kaget bukan kepalang. Benar dugaanku! Mereka (yang duduk di bus kota) bukanlah pasangan suami istri yang sebenarnya. Hahaha... *cukup tertawa dalam hati.
Telinga ini juga mulai memasang sensor tinggi. Mencoba mendengar sedikit obrolan tentang mereka. "Suamimu gimana? Masih ngambek?"
Waduuuh, obrolan ini semakin tidak sehat. Mereka ternyata sama-sama memiliki pasangan.
Sudah-sudah! Tidak bagus 'menguping' obrolan mereka. Menambah dosa saja.
Perjalanan kami berakhir di tempat yang sama. Terminal bus kota. Lalu mereka sama-sama bergandengan tangan sambil jalan menuju stasiun kereta api.
Entahlaaah, kenapa harus dengan mereka lagi. Risih melihat pasangan tersebut. Pada saat mereka sedang menunggu KRL, benar saja. Wanita itu melepaskan cincin yang tergantung pada kalungnya sebagai bandul. Lalu meletakkannya lagi di jari manisnya.
HEI!!! Rasanya ingin teriak dan tertawa.
Untuk apa? Apa gunanya? Apa maksud dan tujuannya?
Bukankah dipakai atau tidak juga kalian bisa memanipulasinya bukan?
Kesetiaan tidak bisa dinilai dengan ada atau tidaknya cincin tersebut melingkar dijari kan?
Tidak jarang pasangan yang benar-benar setia, mereka rela menjual "tanda cinta" mereka demi sesuap nasi dikehidupan setelah menikah atau mungkin demi menutupi hutang setelah berpesta.
Tidak jarang pula pasangan yang tetap mengenakan cincin tersebut, tapi mengaku itu hanya perhiasan biasa, tidak berarti apa-apa, lalu memanipulasi "status"-nya.
Jadi, apakah ada atau tidaknya cincin pernikahan itu berarti kini?
Ini pernah menjadi perdebatan antara saya dengan suami saat dulu awal menikah.
Sifat pelupanya membuat saya jengkel setengah mati.
Maklumi-lah, kami menyimpan uang setiap bulan sebelum menikah demi membeli mas kawin sendiri. Perlu diketahui jari pasangan saya berukuran cukup besar untuk ukuran standar pria. Bisa dibayangkan berapa gram dia akan menghabiskan emas untuk cincin nikah yang akan kami pesan? Jadi, apa rasanya jika "benda berharga" tiba-tiba hilang karena lupa taruh? Ya! Saya kesal.
Tidak jarang dia lupa menaruh cincin nikah yang dilepas pada saat berwudhu. Sampai akhirnya sifat lupanya membuatnya geram juga.
"Cincin aku lepas aja deh! Aku lupa terus lepas dan taruh dimana! Daripada hilang, mending kamu yang simpen deh!", ucap suami saat itu.
Tanggapan saya saat itu adalah : "Lho, makanya jangan dilepas jauh-jauh. Simpan dikantong kek!"
Pikiran "anak-anak" saya muncul tiba-tiba. Sebagai pasangan yang belum lama menikah, rasa cemburu kerap kali muncul.
"Kalau nanti dikantor ada yang godain kamu gimana? Kalau kamu nanti ngakunya belum nikah gimana? Kalau nanti kamu 'ganjen' ke cewek lain gimana?"
Heeeeiiii...!
Bukankah rekan-rekannya juga sudah mengetahui bahwa kami sudah menikah?
Jadi, untuk apa suamiku harus berbohong "aku belum menikah lho!".
Dan hampir di usia pernikahan kami yang menginjak hampir 4 tahun, hanya 2 bulan cincin suami bertahan dijarinya. Selebihnya, saya simpan di kotak perhiasan.
Kesetiaan dan ketulusan tidak dapat dinilai dari ada atau tidaknya cincin itu melingkar.
Jika memang sudah niat untuk 'belok', ya pasti belok, tanpa harus memperdulikan si 'pengikat' hubungan.
Apakah ada pendapat lain dari pembaca?
-Alista-
Pikiran "anak-anak" saya muncul tiba-tiba. Sebagai pasangan yang belum lama menikah, rasa cemburu kerap kali muncul.
"Kalau nanti dikantor ada yang godain kamu gimana? Kalau kamu nanti ngakunya belum nikah gimana? Kalau nanti kamu 'ganjen' ke cewek lain gimana?"
Heeeeiiii...!
Bukankah rekan-rekannya juga sudah mengetahui bahwa kami sudah menikah?
Jadi, untuk apa suamiku harus berbohong "aku belum menikah lho!".
Dan hampir di usia pernikahan kami yang menginjak hampir 4 tahun, hanya 2 bulan cincin suami bertahan dijarinya. Selebihnya, saya simpan di kotak perhiasan.
Kesetiaan dan ketulusan tidak dapat dinilai dari ada atau tidaknya cincin itu melingkar.
Jika memang sudah niat untuk 'belok', ya pasti belok, tanpa harus memperdulikan si 'pengikat' hubungan.
Apakah ada pendapat lain dari pembaca?
-Alista-
Komentar
Posting Komentar